Senin, 06 Mei 2013

Pendekatan Pembelajaran

Sebagai tulisan pembuka tirai blog ini, saya akan membahas beberapa istilah pembelajaran. Tak jarang istilah ini jadi membingungkan karena dalam penjelasannya ada banyak persepsi. Terkadang para ahli menyamakan atau membeda-bedakan arti istilah ini -- yah, suatu paradoks. Istilah-istilah ini sering ditemui ketika penyusunan perangkat pembelajaran. Selain itu, bagi penggiat pendidikan juga sering menggunakan istilah-istilah ini dalam menyusun kurikulum. Melihat bahwa istilah-istilah ini merupakan hal yang fundamental baik dalam penyusunan perangkat pembelajaran seperti RPP maupun perangkat kurikulum lainnya. Berikut ini adalah penjabaran singkat mengenai istilah-istilah tersebut yang saya mulai dengan pendekatan pembelajaran.

Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

(1) Teacher-centered approach (TCA) 

TCA adalah suatu pendekatan belajar yang berdasar pada pandangan bahwa mengajar adalah menanamkan pengetahuan dan keterampilan (Smith, dalam Sanjaya, 2008: 96). Cara pandang bahwa pembelajaran (mengajar) sebagai proses menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan ini memiliki beberapa ciri sebagai berikut.
Pertama, guru menjadi pusat dalam pembelajaran. Dalam TCA, guru memegang peran sangat penting. Guru menentukan apapun yang dilakukan siswa di kelas dan sekolah.
Kedua, siswa ditempatkan sebagai objek belajar. Sejalan dengan teori tabularasa bahwa siswa tidak punya pengetahuan sebelum diberikan pengajaran oleh guru.
Ketiga, kegiatan pembelajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu (terbatas). Hal ini sebagaimana yang terjadi pada pendidikan pada umumnya di banyak SD, SMP, dan SMA di Indonesia. Penjadwalan yang ketat, tempat duduk yang diatur, aktivitas yang selalu ditentukan oleh pengajar.
Keempat, tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran. Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Kadang-kadang siswa tidak perlu memahami apa gunanya mempelajari bahan tersebut.

(2) Learner-centered approach (LCA) 

LCA adalah pendekatan yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar. LCA ditingkatkan penggunaannya pada pendidikan tinggi. Pendekatan ini menggunakan metode pembelajaran yang beragam. Ada pergeseran dari TCA ke LCA, yaitu guru yang pada awalnya adalah pemberi informasi menjadi fasilitator belajar siswa. Berbeda dengan TCA, LCA menekankan pada perhatian pengajar yang tercurah lebih banyak untuk membimbing siswa belajar. Selain itu, proses sangat dihargai dalam pendekatan ini. Lebih lanjut silakan baca: pengenalan LCA oleh Polk.
Namun, ada beberapa hal yang patut dipikirkan sebelum menerapkan pendekatan ini. Berikut ini adalah empat poin yang wajib direnungkan dalam pelaksanaan LCA di lapangan.

  • Konsentrasi pada hal yang ingin siswa pelajari.
  • Strategi pengajaran yang memfasilitasi kebutuhan perseorangan seperti kebutuhan intelektual dan emosional.
  • Kebutuhan sosial siswa seperti kolaborasi, komunikasi, dan peer approval.
  • Tujuan pembelajaran. (http://en.wikipedia.org/wiki/Student-centred_learning)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar